“Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu”

Kajian Ustadz Hilman Rosyad, 17 Mei 2008, Masjid Walikota Depok

Hadits 19 (Bagian 1)

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya pernah dibonceng Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai anak muda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang  ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

sumber

Tentang Ibnu Abbas, beberapa kelebihan yang dimiliki oleh beliau: dijuluki sebagai ‘tinta ummat’ karena luasnya ilmu yang dikaruniai Allah kepadanya. Rasulullah saw. pernah mendoakan Ibnu Abbas, “Ya Allah pahamkanlah ia dalam urusan agama, dan ajarkan kepadanya masalah ta’wil (mimpi).”

كُنْتُ خَلْفَ artinya aku dibonceng, bisa di belakang bisa pula di depan. Ini menunjukkan kedekatan Ibnu Abbas dengan beliau. غُلاَمُ ini sebenarnya tidak ada arti yang pas dalam bahasa Indonesia, tapi mendekati ‘anak muda’ atau ‘ananda’. كَلِمَاتٍ secara bahasa adalah jamak dari ‘kalimat’ yang artinya kata (bahasa arabnya kalimat adalah ‘jumlah’). Tapi ‘kalimaat’ bisa pula berarti ucapan, khutbah, di sini artinya ajaran-ajaran penting.

Kalimat pertama: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ Ungkapan menjaga Allah bukan berarti menjaga Allah secara dzati, melainkan menjaga perintah Allah untuk diamalkan dan menjaga larangan-Nya untuk ditinggalkan. Apa dalilnya? Di beberapa tempat dalam Alquran kata ‘menjaga’ banyak digunakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Misalnya menjaga shalat wustha, menjaga janji-janji dan amanah, menjaga shalat, menjaga kemaluan, dan menjaga hubungan baik dengan kerabat.

Sebagai balasan atas penjagaan amal, maka Allah membalasnya dengan menjaga kita, yaitu

  1. Menjaga dari masalah-masalah dunia, misalnya kesehatan, harta, jiwa, bisnis, dan lain-lain. Kisah perjalanan Nabi Khidir as. bersama Musa as. mencatatkan balasan Allah terhadap dua orang tua shalih yang telah meninggal dan mewarisi cukup harta untuk anak-anaknya yang belum dewasa. Allah menjaga harta keduanya dari ancaman orang dengan mengilhamkan kepada Khidir as. untuk memperbaiki rumah mereka (kisah yang ketiga dari tiga kisah tindakan Khidir as. yang dianggap aneh oleh Musa as.) Dengan demikian, harta yang tersimpan dalam rumah tersebut bisa terlindungi dengan baik sampai anak-anaknya dewasa.
  2. Menjaga iman dan agama dari syubhat dan syahwat yang diharamkan. Sebagaimana kisah Nabi Yusuf as. Allah selamatkan beliau dari fitnah nista yang diperbuat oleh majikannya sendiri.

Kalimat kedua: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. Kalimat ini memiliki definisi yang sama dengan ihsan, “Beribadalah engkau kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Namun, jika tidak bisa, maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu.” Perintah menjagaNya, sama maknanya dengan kalimat sebelumnya, juga berbalas ma’iyatullah. Artinya perasaan dekat dan dijaga oleh Allah. Dalam setiap kondisi Allah mengarahkan kita untuk berbuat baik dan menjauhi maksiyat.

Kalimat ketiga: إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ. “Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah”. Kalimat ini berisi perintah mutlah untuk hanya meminta kepada Allah, tidak boleh bergantung kepada selain-Nya (meskipun tentu boleh minta kepada selainNya). Kalau urusan yang diminta tidak bisa diberikan oleh manusia, misalnya hidayah, ilmu, kesehatan, keselamatan, maka mintalah kepada Allah. Namun, jika yang dimintanya itu menurut kebiasaan Allah turunkan melalui tangan makhluk-Nya, maka mohonkan kepada Allah agar mereka dilembutkan hatinya dan berbelas kasih.

Tidak boleh berdoa kepada Allah dengan mengatakan tidak butuh kepada makhluk, karena Rasulullah mendengar ucapan Ali ra. “Ya Allah jadikanlah kami tidak butuh kepada makhluk-Mu”. Maka beliau bersabda, “Jangan engkau berkata demikian. Karena makhluk itu saling membutuhkan satu sama lain. Tetapi katakanlah, Ya Allah jadikanlah kami tidak butuh kepada makhlukMu yang buruk (perbuatannya).”

Meminta-minta (mengemis) harta kepada manusia tidak halal kecuali dalam tiga hal:

  1. Hamalah, yaitu terlilit hutang. Misalnya dari saking banyaknya hutang dan tidak mampu melunasi kemudian terancam keselamatan harta dan keluarganya, maka boleh meminta sampai ancaman tersebut hilang.
  2. Tertimpa musibah, misalnya kebakaran, harta dicuri orang sampai ludes. Maka boleh meminta harta kepada orang.
  3. Jelas-jelas fakir miskin yang dinyatakan minimal oleh 3 orang keluarga atau kerabatnya.

Pertanyaan-pertanyaan:

Bagaimana menjaga kebersihan harta kita yang diperoleh sebagai penghasilan dari kantor yang tidak bersih dalam pendapatannya?

Banyak kasus yang serupa termasuk misalnya di bank-bank konvensional. Pada kondisi ini kita dizhalimi oleh sistem. Bukan karena memang kita yang menghendaki. Bagaimana menghadapinya? Yang penting adalah konsistensi untuk tetap berusaha membangun sistem, ishlahul hukumah. Justru menurut saya ( =ustadz ) lebih baik jangan keluar dari sistem dan memulai usaha perbaikan dari dalam. Kejar posisi penting dan strategis supaya nanti lebih mudah melahirkan kebijakan maslahat dan mengecilkan mudharat. Lantas, bagaimana dengan harta yang kita peroleh? Mudah-mudahan Allah mengampuni dan dihapus oleh kerja dakwah kita memperbaiki sistem.

Analoginya begini. Saat Rasulullah saw. berdakwah di Makkah, ratusan berhala masih bertaburan di sekeliling Ka’bah. Apakah Rasulullah enggan shalat di depan Ka’bah? Tidak. Saat beliau melaksanakan shalat, beliau shalat di depan Ka’bah menghadap Ka’bah. Apakah Rasulullah menghancurkan berhala-berhala itu sebelum shalat? Tidak. Beliau mendahulukan menghapus berhala dari kepala dan hati orang-orang Quraisy, berhala-berhala fisik itu nanti akan hilang dengan sendirinya. Lalu, apakah boleh shalat di depan berhala? Ho, tentu tidak. Hukumnya haram. Tapi dalam kondisi itu, perjuangan menghapus sistem itu yang penting.

Contoh lainnya soal hadits yang menyatakan bahwa penyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka, misalnya untuk masuk ke sebuah lembaga/pekerjaan. Ada ulama yang mengecualikan, si penyuap bisa tidak berdosa, dosanya ditanggung oleh yang menerima suap, karena jika tidak masuk maka ia terhalang dari memenuhi hak-hak orang banyak.

Contoh lain, Jual beli pupuk kandang sebenarnya tidak boleh. Barang najis haram diperdagangkan. Namun, jika tidak dibeli, maka tanaman mati, panen gagal, berakibat berkurangnya cadangan makanan, dan bisa berujung kepada kelaparan. Soal riba juga demikian.

Misalnya kita sedang sholat, lantas ada atasan kita jadi makmum. Mau ditolak seperti apapun, pasti ada perasaan untuk tampak sebaik-baiknya di depan atasan (meskipun sesedikit mungkin), padahal tadi di awal sudah dimulai dengan baik & insya Allah ikhlas. Bagaimana menjaga keikhlasan saat tengah menjalankan amal ini?

Menurut ulama, dengan menegaskan “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sifat riya'” insya Allah cukup untuk menjaga pahala ikhlas.

Bagaiman tuntunan Islam soal harta, antara berorientasi kaya dan bersikap sederhana?

Islam memerintahkan kita kaya, karena kalau kaya kita bisa bersedekah lebih banyak, bisa haji, dan lain-lain. Umat Islam harus kaya. Beda antara miskin dan qanaah. Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah qanaah bukan miskin. Beliau tidak miskin, banyak sahabat yang kaya-kaya. Tapi mereka qanaah, mencukupkan diri tidak bermewah-mewah.

Kita harus kaya, kaya ilmu, kaya harta, kaya kuasa dan kaya fisik (kuat). Karena tegaknya syariat perlu pemenuhan syarat kaya-kaya tersebut. Kaya: Pintar, Kaya, Sehat, dan Berkuasa.

Wa allaahu a’lamu bi shawab.

Tagged with: , ,
Posted in Ta'lim
One comment on ““Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu”
  1. ms chou says:

    Luasnya ilmu..
    Waduh dah 3 x comment apa ga bs jg …nguing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: