Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung

Generasi ini memang butuh cerita. Tapi bukan cerita membosankan yang dilakonkan melalui pelajaran sejarah di bangku sekolah yang tak lain hanya untuk menjawab pertanyaan tentang siapa dan kapan. Ibu Siti Fadilah Supari melalui bukunya, ‘Saatnya Dunia Berubah’, ternyata lebih tahu bagaimana seharusnya sejarah diajarkan. Dengan gaya penulisan yang cenderung santai namun kental nuansa heroik, singkat tak bertele-tele tapi tegas, sederhana namun syarat makna akan perjuangan martabat manusia, beliau menorehkan dengan tangannya sendiri sejarah emas bangsa Indonesia. Catatan harian yang bukan sekedar kisah kronologis melintasi ruang dan waktu, melainkan dengan emosi memutar kembali memori dalam kepala untuk menjadi lukisan baru sejarah.

Ahh, alangkah indahnya jika sejarah perjuangan kemerdekaan negara misalnya, dikisahkan sebagaimana Ibu Siti menuturkan perjuangannya. Maka sejarah tak akan menjadi sekedar kumpulan nama dan angka. Toh buku-buku pelajaran sejarah itu tidak akan menurun kualitasnya gara-gara ditulis seolah buku harian pejuang Soekarno, atau Bung Hatta, atau Panglima Sudirman. Yaa, sejarah benar-benar akan mengasyikkan. Semangat, inspirasi, inovasi, ide, cita-cita, hikmah, atau bahkan muslihat dan intrik menjadi pesan utama yang harus disampaikan kepada generasi muda tentang sejarah bangsanya.

Apakah sebenarnya yang diperjuangkan Ibu Siti? Prasangka dengan mudah bisa saja mendakwa, wild virus yang nantinya dijadikan seed virus sebagai tahap awal menemukan vaksin, bisa dijadikan senjata untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dijual dengan harga tinggi kepada produsen vaksin, dan bagi hasil yang menjanjikan dari hasil penjualan vaksin. Prasangka ini bisa saja benar, sebab memang salah satunya ini yang diperjuangkan. Namun, bukan ini yang menjadi taruhan utama Ibu Siti. Keadilan dan kesetaraan. Ya, inilah yang menjadi alasan utama.

Selama ini, lingkaran setan ‘Circulus Vitiosus’ dalam distribusi virus flu burung dan vaksinnya telah menjadi alat imperialisme negara maju terhadap negara miskin/berkembang, terutama yang terjangkit virus. Lingkaran setan ini bermula saat negara yang terjangkit virus H5N1 harus mengirimkan sample virusnya ke WHO CC (Collaborating Center), tempat dilakukannya risk assessment. Hanya ada 4 WHO CC di dunia ini, yaitu di London, Melbourne, Tokyo, dan Atlanta. Demikian ketat syarat untuk mendirikan WHO CC, yang jelas negara-negara berkembang, miskin apalagi, hampir tidak mungkin untuk memiliki WHO CC.

Apa yang terjadi…

Tagged with: , , ,
Posted in Resensi
One comment on “Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
  1. I always spent my half an hour to read this website’s
    articles everyday along with a cup of coffee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: